Home » Opini » Sudahi Bicara Tanpa Ilmu

Sudahi Bicara Tanpa Ilmu

Masih berkaitan dengan tulisan Internet Untuk Apa? yang beberapa saat lalu saya publish. Kini memang zamannya internet dan sosial media, sebagian besar orang sudah mempunyai akun sosial media mulai Facebook, Instagram, hingga Snapchat atau sekedar aplikasi chat semacam WhatsApp, BBM, atau lainnya.

Kemajuan ini bagus selagi kita memanfaatkannya untuk hal positif, menjalin silaturahmi misalnya (walau menurut saya tetep harus silaturahmi secara langsung), akhir-akhir ini saya sangat merasa risih dan aneh juga sih sebenernya dengan temen-temen pengguna sosial media yang terpaksa saya bilang tidak beretika dalam menggunakan sosial media.

Orang banyak berkomentar dan bicara padahal tidak menguasai ilmunya, share berita yang belum diketahui benar atau tidaknya, suka termakan dengan berita Hoax, dan sebagainya. Bersosial media namun tidak berhati-hati ketika menulis sesuatu dan berkomentar sesuatu, suka menjadi ahli dadakan ketika ada isu diranah yang agak sensitif seperti agama dan politik, padahal sama sekali tidak punya ilmu tentang itu. Suka berdebat kasar di sosial media tanpa adab, share informasi tanpa riset dulu.

Yang paling parah ketika seseorang share sebuah informasi baik itu tulisan atau video, banyak yang komentar dengan memakai kata-kata kasar dan tidak pantas lainnya, sampai-sampai menyinggung soal fisik yang kita sudah tau itu tidak bisa dirubah.

Sahabatku, kita ini sudah sampai pada zaman kebebasan kebelinger, saya salah seorang yang sangat tidak setuju dengan otoriter, namun sangat menyesalkan kebebasan yang kita dapatkan di negara ini kita gunakan untuk hal semacam itu. Saya bukanlah orang yang pinter, namun kita ciptakan suasana nyaman di negeri yang kita cintai ini. Kebebasan berpendapat harus dijaga, namun bedakan mana kritik mana caci maki.

Orang yang bicara dan komentar tanpa ilmu sudah banyak, ditambah orang yang berilmu namun bicara dan komentar tidak dengan adab yang baik, hal ini memaksa kita untuk selalu menjaga lisan, hati, fikiran dari hal-hal yang kurang baik, memaksa kita untuk terus belajar adab dan ilmu, apapun ilmunya (tentunya ilmu yang baik) jika diamalkan dan disampaikan dengan baik dibarengi dengan adab yang baik, niscaya akan menghasilkan yang baik atau efeknya pasti baik juga.

Bahayanya bicara tanpa ilmu dan adab yang baik itu bisa mengeraskan hati dan bisa menghambat kebenaran itu datang kekita, karena kita sudah keras hatinya dan terlanjut ngejudge sesuatu yang belum sepenuhnya kita riset dan pelajari, walau kebenaran itu bisa datang kepada siapa saja yang dikendakiNYA, namun hal ini sangat perlu kita perhatikan.

Saya mengutip dari kisanya ulama, Imam Malik rahimahullahu mengisahkan,
قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”
(‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

Semoga kita bisa lebih bijak dalam menggunakan internet dan sosial media, lebih bisa membedakan mana berita hoax mana bukan, tidak berkomentar kasar dan bahkan melakukan caci maki, penghinaan, hingga fitnah di sosial media yang sudah jelas melanggau UU ITE, dan menyudahi debat tanpa ilmu yang tidak ada habisnya, jika memang ada sesuatu yang butuh klarifikasi, lebih baik kita tabayyun atau klarifikasi langsung ke orangnya, bukan malah menebak-nebak dan berkomentar yang dengan adab yang tidak baik. Tegaslah jika itu sudah tau kebenarannya (dengan adab yang baik), namun kedepankanlah adab dan cari informasi yang valid jika hal itu masih simpang siur.

Damailah negeriku.

Gue adalah blogger biasa yang mencoba menyapa dunia dengan tulisan alakadarnya ala gue yang gue namakan A Journey of Mezi Aris Apronny.
email: me@meziaris.com

20 thoughts on “Sudahi Bicara Tanpa Ilmu

  1. Zaman sekarang marak sekali info2 hoax yang beredar termasuk ajak2 untuk berbuat radikal. Mungkin itu semua bisa diatasi dengan adnya SDM yang cerdas dan bijak dalam menggunakan sosial media

  2. Setuju, terkadang banyak orang yang baru tahu sedikit, sudah berani share sana sini, aku pribadi lebih baik cari dulu kepastiaannya sebelum share. Aku rasa pilihan yang baik untuk bermain sosmed itu share yang bermanfaat 🙂

  3. bener banget mas, sekarang banyak orang yang tiba-tiba jadi ahli di media sosial. Saya gak habis pikir kok mereka dengan mudahnya mengatakan hal yang tidak sepantasnya dengan merasa jago. Haduh, ampun deh.

  4. kalau masalah share dan ngomen di sosial media, sekarang saya juga lumayan selektif ini mas. kudu pinter milah-milah, mana yang bener dan beritanya sesuai fakta. apalagi sekarang juga banyak info / berita yang menjurus ke SARA, misal kita salah nanggepi ya bakal jadi bumerang buat kita sendiri. ngeri

  5. Akhir2 ini banyak banget kabar2 hoax yang ujungnya Saling adu argument. Bener kata Masnya, lebih baik dial daripada banyak bicara tapi tanpa ilmu karena jatuhnya adalah membual.

  6. itulah kenapa 2 thn belakangan ini aku ngelakuin sorting temen2 di semua media sosial. Siapapun, ga peduli kawan ato keluarga, tp kalo dia menyebarkan link2 berbau fitnah, nyinyir, dan hoax, aku delete. Ga kepengin membaca kalimat2 kasar dr orang yg seperti itu. Medsos gunanya utk menghubungkan orang2 yg terpisah jauh, tp skr ini jd sarana utk nyebarin hoax yaa 🙁

Leave a Comment